Rinduku Tersampaikan di Lombok

Gili Nanggu

Kapal meninggalkan Gili Trawangan menuju pelabuhan bangsal. Rinduku terhadap laut memang sudah tersampaikan di  3 Gili, namun rasanya masih belum cukup, untungnya masih ada hari esok di Gili Nanggu. Mas Julius sudah standby menunggu kami di pelabuhan bangsal, namun dia sms menginformasikan harus menunggu di terminal karena mobil tidak boleh masuk, kami harus naik cidomo dari pelabuhan menuju terminal. Jaraknya tidak terlalu jauh hanya sekitar 5 menit, dengan harga Rp.15.000 / 4 orang. Kendaraan pribadi hanya oleh sampai terminal, ini untuk mengenalkan cidomo kepada para wisatawan. Cidomo adalah delman yang rodanya ban mobil.

Awan gelap dan hujan pun mulai turun pada saat kami mulai meninggalkan Bangsal, Alhamdulilah. Musik pun mulai dinyalakan oleh Eva dan  lagu-lagu favorit era 90-an mulai berdendang, saya dan Novi pun mulai mengikuti lagu… yess, lagu-lagu rindu ditemani rintikan hujan dikaca mobil, rindu yang terbendung pun semakin mencuat keluar menjadi nyanyian hati, ahhaayyyy hehe…

Mas Julius menawarkan kami untuk mampir ke tempat oleh-oleh yang bernama Lestari di daerah Ampenan. Kami pun berbelanja sedikit oleh-oleh, ehhh saya deng yang dikit, yang lainnya mah banyak hehehe. Makanan khas lombok yang terkenal adalah dodol2an termasuk dodol rumput laut yang terkenal, rasanya enak. Lalu ada satu kue yang menurut mas-masnya itu kue khas lombok untuk acara-acara pernikahan, namanya lupa, kuenya garing terdiri dari tepung beras dengan gula aren pada topingnya, rasanya lucu😀. Oiya, saya berterima kasih pada mas Julius yang sudah mengirimkan dodol rumput laut  dus seminggu setalah saya di Jakarta😀.

Makan malam kami di Mataram adalah Sate Rembiga. Sate ini adalah sate daging yang sudah direndam sebelumnya oleh bumbu manis pedas, rasanya Enak! Perpaduan manis dan pedasnya pass, dimakannya dengan lontong, lontongnya dibungkus daun pisang berbentuk segitiga. Disebut sate rembiga karena memang berlokasi di jalan rembiga mataram. Katanya, orang lombok kalau ada acara sate daging inilah sebagai cemilannya. Untuk Eva yang sedang sariawan, sate ini terlalu pedas untuk dimakan, maka kami mampir membeli KFC untuk makan malam Eva.

Dimanakah kami tidur malam kedua di Lombok? Kami tidur di Lombok GuestHouse, lokasinya di Jl. Pariwisata no. 82 Mataram. Info mengenai Guesthouse ini saya dapat dari Donal, teman TravelTroopers. Harga kamar di Guesthouse ini mulai dari Rp.160.000 – Rp.200.000, Rumahnya besar. Saya pesan untuk kamar large dengan harga Rp.200.000 plus 2 extrabed, harga extrabed Rp.50.000/bed. Kamarnya besar dengan fasilitas AC, TV, dan kamar mandi dalam. Secara keseluruhan Lomok Guest House menurut saya nyaman. Tapi, ada yang mengganggu Novi yang sangat takut kecoa. Di kamar mandinya kami menemui beberapa kecoa, mungkin karena kaca di kamar mandi tidak tertutup rapat.

Jam 8.30 pagi kami sudah selesai sarapan dan siap menuju Gili Nanggu. Jarak dari mataram menuju Gili Nanggu sekitar 1,5 jam. Sesampainya di pelabuhan, kami memilih alat snorkeling, sewanya Rp.50.000/set. Dan disini pula kami beli roti untuk memberi makan ikan untuk snorkeling nanti. Untuk menuju Gili Nanggu dan  Gili lainnya, kami menyewa perahu dari pagi hingga sore Rp.250.000. Awalnya saya dimintai Rp.300.000, namun Mas Julius mengecek, jadi dikembalikan Rp.50.000 oleh di penjaga tiket. Beruntungnya kami ditemani mas Julius, sampai-sampai kami dibelikan pisang goreng hangat untuk cemilan di Gili Nanggu, baiknyaaaa…. Kami berempat pun menaiki perahu menuju Gili Nanggu sekitar 15 menit. Sebenarnya ada  gili lainnya, namun kami fokus ke Gili Nanggu.

??????????????????????????????? ???????????????????????????????

Gili Nanggu adalah pulau kecil yang cukup sepi, namun ada cottage di pinggir pantainya. Untuk bersantai disini enak, pasir putihnya lembut. Air laut di lombok saya perhatikan sama, pasir putih dengan gradasi warna air laut yang menawan. Sangat cocok melepas rindu di laut Lombok *wink*. Saya pun langsung nyemplung mengarungi pantai Gili Nanggu, di sisi depan cottage menurut saya sudah tidak agus, banyak sampah dan karangnya sudah mati, walaupun di sisi dekat palung ada karang yang baru ditanam. Namun di sisi dekat perahu parkir, karangnya masih cantik dan lebih banyak ikan-ikannya. Kalau sudah di laut saya suka lupa diri baru sadar pada saat mandi kalau badan sudah gosyong parah hahaha… gimana nggak, 2 hari berturut-turut melepas rindu terhadap laut😀. Tempat mandi di Gili Nanggu ada yang air tawar bayar Rp.5000/orang. Makan siang juga di restoran Gili Nanggu. Kembali ke pelabuhan jam 3.30 sore.

Sesampainya di pelabuhan, hujan pun turun lagi, setiap sore ditemani hujan di Lombok, padahal pada saat di Gili Nanggu sangat cerah dan terang. Perjalanan pun lanjut ke persinggahan kami terakhir yaitu Sunset House lombok di Senggigi. Kami pilih malam terakhir di Senggigi, agar paginya bisa bermain di pantai Senggigi😀. Sunset House Lombok ini hotel baru yang saya recommend. Harga untuk kamar standarnya Rp.400.000 namun jika transfer minimal 1 minggu sebelum hari H, dapat diskon  15% menjadi Rp.340.000. Sebelum menuju hotel, kami ke bukit malimbu, niatnya untuk melihat sunset namun sayang mendung, akhirnya kami foto-foto, bersantai sambil makan bakso hehe.

Bukit Malimbu edit

Matahari baru menongolkan wajahnya pada saat kami keluar kamar hotel menuju pantai senggigi, kebetulan hotel kami berada di pinggir pantai, yeayy!! Ditambah kolam renang hotel menghadap pantai yang membuat saya terpuaskan melampiaskan rindu akan laut. Pantai di Senggigi erwarna hitam, sama seperti di Amed/Tulamben Bali, hal ini karena dekat dengan gunung merapi. Selesai bermain di pantai, Saya dan Eva pun langsung nyebur untuk renang di kolam renang hotel. Selama di Lombok, saya tidak pernah luput dari air, BAHAGIA!!

???????????????????????????????

Main di pantai sudah, sarapan sudah, beberes sudah…. maka kami pun bersiap meninggalkan Lombok untuk kembali ke Jakarta. Mas Julius, sang guide yang baik hati ini pun sudah siap mengantar kami ke Lombok International Airport. Namun di tengah jalan, beliau menawarkan kami ke Desa Sade seelum ke Airport, karna masih cukup waktu.

desa sade

Desa Sade adalah sebuah desa warga sasak Lombok.Desa ini terdiri dari 105 keluarga yang masih sangat tradisional. Mulai dari rumahnya berbentuk lumbung, memasak masih menggunakan kayu, mengepel dengan tai kebo dan  melahirkan nya pun masih manual, tidak ke rumah sakit/bidan. Kerajinan khas warga sasak ini adalah kain tenun sasak. Di desa ini pun banyak di jual kain khas tenun bagi para pengunjungnya. Agama warga desa adalah islam. Para nenek terlihat masih segar menenun sambil mengunyah sirih. Wajib datang ke desa ini jika kalian ke Lombok untuk wisata budayanya😀.

rumah lumung nenek tenun

Airport sudah mulai terlihat di pelupuk mata, waktunya kembali ke Jakarta. Walau hanya dalam waktu singkat, Rinduku sudah tersampaikan di Lombok.

4 Comments (+add yours?)

  1. gabwin
    Jan 10, 2014 @ 14:27:29

    minta nomernya pak julius donk..

    Reply

  2. yogi fraditama
    Feb 01, 2014 @ 21:40:45

    btw, tarif sewa om julius sama mobilnya itu berapaan neng?

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: