Bercengkrama di 3 Gili Lombok

DSCN0124

“Ebk  pety, pa kbr? Jd ke Lombok tgl 4 mart?”

Kaget membaca sms masuk, sambil membalas sms tsb

“ipuullll… kan bukan tgl 4 maret 2013, tapi tgl 4 april 2013. Jangan2 salah booking juga untuk lumbung cottage nya yah?”

Dengan cepat sms saya pun dibalas ipul ;

“o gtu ea dh cori tk kira in kira in bulan ni cori ea, nti tk kasi tau lumbungx”

‘Whattt?!! Pegimane deh cara baca sms iniihh’ , batin saya sambil mengernyitkan dahi berusaha keras membaca sms balasan dari ipul, guide kami di Gili Trawangan, dan tentunya sambil tertawa terbahak-bahak.

Belum-belum saya datang ke Lombok, saya sudah semangat untuk berada di Gili Trawangan, ditambah lagi membayangkan si Ipul, guide alay kami dengan sms-smsnya yang selalu membuat saya tertawa hahahaha…. Saya dapat kontak Ipul dari Helen, teman saya yang sudah ke Lombok di bulan Februari 2013.

Perjalanan saya ke Lombok awalnya di picu oleh promo tiket Batavia air pada tahun 2012, Jakarta – Lombok PP seharga Rp.278.000 untuk tgl 4-7 April 2013. tapi keberuntungan ternyata tidak berpihak pada kami, 4 bulan menuju hari H, Batavia Air dinyatakan pailit. Saya, Eva dan Nurma panik pada saat itu, tapi karena tekad kami bulat untuk ke Lombok ditambah Novie yang sudah terlanjur beli tiket Lion Air dengan tanggal penerbangan yang sama, maka kami pun membeli lagi tiket Lion Air yang akhirnya satu penerbangan dengan Novie.

Sesampainya di SHIA jam 7 pagi, terlalu pagi memang untuk penerbangan jam 9, untuk menghindari ketinggalan pesawat. Untungnya penerbangan ‘on schedule’, sehingga sesampainya di Lombok International Airport pun tepat waktu. Sambil celingak-celinguk saya mencari mas Julius, guide/sopir kami, namun tidak ada yang membawa tulisan bernama ’FETY’, bb saya mati sehingga tidak bisa menelpon dan akhirnya menggunakan telpon teman lain untuk menghubungi, Yollaaaa… akhirnya kami pun bertemu dengan mas Julius. Karena sampai Lombok jam 12, maka sudah waktunya kami makan siang. Kami pun makan di Rumah Makan Cahaya, rumah makan di depan Airport yang direkomendasikan Pak bondan. Makanan di rumah makan ini enak, dengan makanan khasnya Nasi Balap puyung. Rasanya memang beneran ‘maknyuussss’ sambalnya yang yahud alias pedas memang menambah nafsu makan dan harganya pun sangat terjangkau, nasi balap puyung komplit harganya Rp.15.000 per porsi.

Nasi Balap Puyung

“Ebk pety krg dh di mna ni?”

Ipul sms menanyakan keberadaan kami dan langsung dengan sigap saya membalas bahwa kami sedang perjalanan menuju bangsal.

Matahari siang itu sangat cerah menyambut kami, dan kami pun tidak sabar untuk bertemu laut. Perjalanan dari Airport Lombok menuju pelabuhan bangsal sekitar 1,5 – 2 jam. Menuju pelabuhan bangsal kami melewati Kota Mataram, Senggigi, Bukit Malimbu dan Puncak Nipah. Namun karena mengejar kapal angkutan maka kami tidak mampir. Penampakan pelabuhan bangsal tidak seperti pelabuhan besar seperti muara angke, dia hanya ada satu bangunan untuk pembelian tiket yang berada di pingggir pantai dengan kapal-kapal kecil berjejer. Kapal untuk public transport ini beroperasi hanya sampai jam 5 sore, untuk ke 3 gili. P.Bangsal ke Gili Air dengan harga Rp.8.000, ke Gili Meno Rp.9.000, ke Gili Trawangan Rp.10.000. Isi kapal ini juga angkutan untuk para pedagang/hotel, sehingga penuh dengan kardus-kardus dagangan.

bangsal Di dalam kapal

“Dh nyampek mna ebk? Pa nma butx? Tk tggu di pelabuhan nih”

Di kapal pun dilancarkan sms-sms dari Ipul hahahaa…. Yang bikin saya pusing bacanya.

Kami melewati Gili Air, Gili Meno, dan sampailan di Gili Trawangan disambut dengan airnya yang berwana biru… ahhh kangennya dengan laut membuat saya nyengir-nyengir sendiri.

Pada saat turun dari kapal, dari kejauhan saya sudah melihat laki-laki berkaos oblong putih dengan kacamata hitam dengan frame putih berbadan hitam kejemur (hihihi.. maap yah pul), namun karena diajak ngobrol dengan penumpang kapal lain, saya tidak langsung bertegur sapa, hingga akhirnya Ipul sang guide ‘alay’ kami menyapa Eva yang bacpacknya warna oranye sama dengan backpack saya, yang sudah saya infokan ke Ipul sebelumnya. Saat saya sedang meladeni obrolan kenalan baru, dicolek Eva “ini loh EBK PETY nyah….”  Dengan pembacaan sesuai tulisan sms hahahaha…

“Ipuuuullll… my man!! Pa kabarr??” ,sambil salaman ala  teman lama yang baru bertemu kembali haha. Kami pun langsung di geret ke lumbung Cottage tempat menginap kami semalam. Letak Lumbung Cottage berada di” tengah kota’ nya gili trawangan (kata ipul), maksudnya dekat kemana-mana, dekat ke pasar seni maupun ke pantai, tapi memang tidak di pinggiran, agak masuk ke dalam. Berikut penampakannya.

Lumbung Cottage

Selesai menaruh barang, Ipul mengajak kami berkeliling Gili Trawangan dengan bersepeda. Sambil bersepeda kami pun mengambil foto-foto. Awalnya senang bersepeda namun lama kelamaan capek juga, keringatan wooiii hahaha, olahraga bener kayanya. Selain sepeda, ada juga Cidomo, yang dalam bahasa Indonesia disebut delman. Harga sewa untuk sepeda Rp.40.000-50.000 / 24 Jam, sedangkan Cidomo harganya Rp.150.000/3 orang dan tidak bisa bebas berhenti. Jadi, lebih enak sewa sepeda sebenarnya😀. Sekilas  Gili Trawangan seperti Phi Phi Island – Thailand. Pulau yang pinggiran pantainya berisi restaurant & bar , dan 80% isinya turis asing alias bule, namun tidak seramai Phiphi island. Sembari bersepeda mengelilingi Gili Trawangan, kami berfoto-foto di pinggir pantai, sayang awannya mendung jadi tidak dapat melihat sunset.

sepeda ???????????????????????????????

Haii

kwartetSelesai bersepeda warna langit pun sudah berubah menjadi gelap, waktunya makan malam hehehee… lelah bersepeda langsung makan!. Makan malam kami di pasar seni, ada yang menjual seafood bernama Ibu Aminah, letaknya pas di pintu masuk pasar seni. Mereka menjual ikan laut, udang, cumi, dan lain-lain. Dijualnya dalam bentuk sate, satu tusuk sate harganya mulai dari Rp.5.000 – Rp.25.000 dan otomatis dapat nasi dan pilih 3 jenis sayur. Seperti ini kurang lebih penampakannya.

???????????????????????????????

Pagi hari di Gili Trawangan, saya mulai  dengan berkeliling dengan sepeda dan bersantai di pantai.  Selesai sarapan, saya dan Nurma bersiap untuk snorkeling di 3 gili (Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air). Harga island hopping per orang sebesar Rp.100.000, termasuk alat snorkeling kecuali fin. Jika mau tambah fin, bayar lagi Rp.15.000. Saya sendiri bawa fin sendiri. Yeaayyy… akhirnya saya main air!

Me n Laot

Kapal pun melaju meninggalkan bibir pantai, dan menuju ke spot pertama. Spot pertama berada di antara Gili Trawangan dan gili Meno. Nurma sudah siap dengan life vestnya, kami pun nyebur. Awalnya snorkel Nurma bermasalah, selalu masuk air, mungkin karena panik, namun lama-lama saya giring Nurma ke tempat yang lebih cetek dan kami pun mulai melihat karang-karang dan ikan-ikan berseliweran. Sekitar 30 menit kami renang. Sedang asyik-asyik berenang, tiba-tiba saya sadar bahwa kapal kami berada sangat jauh. Kamipun renang lagi menuju kapal. Awalnya saya bilang ke nurma untuk tidak menggerakkan kakinya, biar saya saja bergerak, tapi kok lama-lama berat yaahh… akhirnya saya menyuruh nurma menggerakkan kaki, namun ternyata tidak pengaruh, akhirnya saya menyuruh dia untuk tidak menggerakkan kaki lagi.  Mungkin beratnya dikarenakan dia menggunakan life vest. Sampai di kapal, Nurma pun langsung berucap “fet, nanti spot kedua, gw ga ikut turun yah.. elo ajah”, hahahaa… rupanya Nurma kelelahan. Dan memang kebetulan spot kedua di Gili Meno, sang guide menginformasikan kami harus berenang 500 meter, karna akan hunting penyu, dan penyu itu tersebar di spot yang berjarak 500 meter.

“Yaaakk.. We have to swim 500 meters to see the turtles” ucap guidenya. Saya pun hanya turun sendiri, Nurma dan 5 orang Jakarta lain (kenalan di kapal) tidak ikut turun, sepertinya mereka lelah dan tidak berani melepas life vest nya. Akhirnya saya dan para turis asing mulai turun dan mulai berenang. Baru turun kami sudah menemukan penyu di kedalaman 8 meter. Laut di Gili ini berbentuk palung hampir sama dengan laut Bali, jadi saya berenang di atas kedalaman yang berbeda antara sebelah kanan dengan kiri. Di sebelah kanan kedalaman 7-8 meter sedangkan sebelah kiri puluhan meter. Warna air dan suhu udara pun berbeda.  Selama perjalanan 500 meter, kami bertemu 6 penyu. Penyu ini makhluk pemalu, mereka akan pergi jika banyak manusia yang datang. Yang membuat saya takjub, melihat penyu yang berenang dari daerah air yang berwarna biru muda ke arah yang airnya berwarna biru tua, Indah! Sayang saya tidak bisa mengabadikan, kamera underwaternya rusak hikkss…

Spot snorkeling ketiga di Gili Air, guidenya info disini disebut Coral Reef Garden. Karang-karang disini indah dibanding 2 gili sebelumnya. Di 3 Gili banyak sekali ikan-ikan yang berenang secara bergerombol, mereka seperti berbaris antri beras, rapiiiihhhh…. Kalau bahasa kelautannya namanya “SCHOOLING FISH”, Cantik!. Pemandangan underwater selalu membuat saya lupa diri, tidak peduli badan berubah menjadi hitam gosyong yang penting senang hehehe…

Di Gili Air kami istirahat makan siang, ada restoran yang menjual makan siang mulai dari menu Indonesia sampai dengan menu Internasional. Tersedia juga toilet umum, sehingga bisa bilas di sini. Saya sih memang sudah niat, jadi sudah bawa perlengkapan mandi. Selain saya dan Nurma, ada 5 orang Jakarta lainnya. 4 orang dari Mangga Dua. Dan satu orang, dia travelling sendiri, kami pun mengobrol bareng sambil makan siang.

Tidak terasa norkeling dari jam 9 pagi hingga jam 3 sore pun berakhir. Saya dan Nurma kembali ke Lumbung Cottage, sedangkan Eva dan Novie masih berada di Restoran. Oiya, Eva dan Novie tidak ikut snorkeling, mereka bersantai di pulau dari pagi mengahabiskan waktu untuk massage dan berleha-leha di restoran. Setelah kami bertemu di hotel, kami pun bersiap untuk check out. Walaupun hanya sebentar di Gili Trawangan, saya puas sudah bisa bercengkrama di 3 Gili😀. Diantar Ipul, kami pun menaiki kapal menuju ke pelabuhan bangsal sore hari. See U again 3 Gili, see u again Ipul!!😀

Gili Trawangan

11 Comments (+add yours?)

  1. Hardi
    Apr 27, 2013 @ 14:37:30

    aaaakkkkhhh…….Lombok selalu bikin ngeces, pokoknya harus ke sana nanti (gak tau kapan tapinya hehehe). Btw sewa sepedanya mahal yee mpok per jam 50rb…Menginspirasi buat ke sana….

    Reply

  2. nurma
    Apr 29, 2013 @ 03:27:04

    Senang sekali berada dalam cerita ini, next trip ya…..

    Reply

  3. edithasta
    Aug 20, 2013 @ 10:35:09

    waduh kalo ga bs renang ga bs nikmatin spot2 dong yak?

    Reply

  4. Karali
    Sep 04, 2013 @ 09:30:48

    Sis brp no tlp Ipull yg bantu di Gili?? tq

    Reply

  5. nicky
    Dec 20, 2013 @ 07:20:30

    boleh minta kontaknya ipul bro ??
    thanks

    Reply

  6. yogi fraditama
    Feb 01, 2014 @ 21:30:53

    kalau snorkeling nya pakai pelampung asik aja ga sih? hehehe belum bisa renang ini… udah ga sempat belajar, tinggal H-4 -_-

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: