Ojek VS Taksi Mercy – Singapore Trip

Perjalanan ke Singapore bukan perjalanan yang pertama buat saya, tapi teman saya (Eva) merupakan kali pertamanya mengecap paspornya di Singapore. Kami berangkat dari kantor masing-masing, Eva di kuningan dan saya di Wisma BNI 46. Karena berbarengan dengan jam pulang kantor dan hari jumat pula, maka saya mengusulkan untuk naik ojek terlebih dahulu, baru nanti di taman anggrek, kami naik taksi. Mengenai tukang ojek, saya punya tukang ojek langganan, sebenarnya tukang ojek ini adalah tukang ojek teman saya tapi kami pun suka minta tolong dia jika butuh mengantarkan ke suatu tempat. Bang Tio, nama abang ojek saya, sudah saya hubungi 1 hari sebelumnya. Sedangkan Eva, karena backpacknya tidak dibawa langsung dari rumah, dia menggunakan tukang ojek di kompleknya (ciputat) untuk mengantarkan backpack sekalian mengantar sorenya. Jam 4 teng saya sudah keluar kantor (izin pulang cepat), dengan membawa backpack tercinta saya keluar kantor dan tidak lama datanglah Bang Tio. Ternyata benar saja, jalanan macet diam! Saya menghubungi Eva dan kami bertemu di gedung kantor saya tapi di bagian sampingnya.

Lalu dimulailah perjalanan kami dengan masing-masing ojeknya. Oiya, Bang Tio ini jago banget ngebutnya dan dia tahu jalan, jadi saya menyerahkan rute jalan ke dia. Sedangkan abang ojeknya Eva hanya mengikuti kami.  Ternyata oohh ternyata si Bang Tio mengajak kami melewati jalan kampung daerah tanah abang, yang jalannya itu hanya muat 1 motor dengan dihimpit rumah-rumah petak berdempetan. Dan kalian tahu, semua orang yang lewat di tegor oleh si Bang Tio hahaha… rupanya ini daerah kekuasaannya. Tukang ojek Eva sempat tertinggal, saya tahu pasti si Bang tio tidak bisa menggunakan kekuatan ngebutnya secara maksimal karena harus menunggu, tapi apa jadinya jika dia menggunakan kekuatan maksimalnya, sudah pasti tidak terkejar oleh bang ojeknya Eva hahaha. Pernah sempat saya berpapasan a Eva, mata kami berdua liat-liatan seperti berbicara “ini mau dibawa kemanaaaaa??” hahaha pasrah aja deh😀.

Sebenarnya saya sama sekali tidak tahu rute ini, namun yang saya tahu jalurnya itu dari tanah abang (perkampungan) lalu slipi, tembus-tembus sudah di mall Ciputra, di jalan besar ini dia ngambil jalur kanan dan ngebut hihihi… bales dendam kayanya bang!. Dia bilang ke saya dengan logat betawinya “Neng, kalau berhenti di taman anggrek nanggung… mending pintu tol masuk Jelambar aje yee? Ntar tinggal naek taksi dari situ dah lancarrr deehh”. Dan saya yang juga orang betawi pun menjawab “iyyeee bang, terserah bang Tio aje enaknya gimane deehh”. Lalu persis sebelum pintu tol Jelambar kami pun berhenti, tapi tidak sampai disitu tugas Bang Tio. Dengan sigapnya si Bang Tio memberhentikan semua taksi, tapi sayang isi semua hihihi…  Daann, begitu digang keluar dekat kami berdiri ada taksi kosong dengan lampu menyala, si Bang Tio pun langsung lari menghampiri Taksi burung biru. Alhamdulillaahhh…. saya dan Eva pun masuk ke Taksi dan salam-salaman dulu ma Bang Tio (haha berasa mau pergi haji). Akhirnya sampai di Bandara dengan selamat dan ternyata counter check in belum buka, yihhiiiee… Setelah check in dan imigrasi selesai, kami pun menuju premier lounge untuk makan gratis😀, dengan menggunakan CC BNI saya, saya dan Eva pun mengisi perut kami di lounge. Pesawat kali ini adalah Tiger Airways – Mandala Air, saya dapat tiker seharga Rp.360.000 untuk berdua, promo pertama kali Mandala kerjasama dengan Tiger Buy 1 Get 1 free, lumayan banget kan. Flight kami jam 19.40, namun sudah masuk pesawat jam 18.20. Sesampainya di Singapore jam 21.30 (sesuai jadwal).

Sesampainya di Singapore,  kami mengantri imigrasi sekitar 30 menit di Budget Terminal – Changi Airport. Rencananya dari bandara ke ABC Hostel (hostel kami menginap) menggunakan taksi karena saya pikir jam 11 sudah tidak ada MRT. Lalu kami keluar bandara langsung menuju pool taksi bandara.  Oiya, sebelum pergi seperti biasa saya sudah menyiapkan itinerary lengkap, bahkan saya tahu perkiraan harga taksi di singapore untuk midnight dari bandara sampai ABC hostel berapa. Berkat mbah google, budget kami untuk taksi adalah SGD24. Lalu setibanya kami di deretan taksi, ada ibu-ibu petugasnya bilang “number 3”. Deretan taksi itu ada plang di atasnya nomor 1, 2, 3 dst, saya melihat dideretan taksi itu rata-rata taksi cab warnanya merah putih dengan mobil jenis lama, namun taksi “number 3” yang akan kami tumpangi lain sendiri warnanya silver dan mobilnya bagus. Akhirnya kami pun menghampiri taksi tersebut dan bilang tujuannya “Jl. Kubor”, tapi pak sopir agak bingung karna saya melafazkannya benar-benar sesuai. Untung ada pak sopir taksi temannya yang sadar, dia bilang  dengan bahasa melayu “itu Jl. kubo (R nya tidak dibaca) dekat Jl.Sultan”, barulah pak sopir kami paham. Kamipun menaroh backpack kami di bagasi dan sayapun sambil tertawa ngobrol dengan pak sopir.

Yak! Masuklah kami ke taksi yang bagus ini, saya dalam kondisi masih nyengir langsung ditepok Eva dan dibisikin “ini kan taksi Mercy”. Mulut saya yang tadinya nyengir langsunglah tertutup serapet-rapetnya, dalam hati “Innangg!! Matilah gw”. Tapi mobil pun sudah berjalan dan barulah saya melihat argo, oiya saya ini rabun (minus) dan kebetulan tidak  pake softlens atau kacamata, yang saya lihat di argo itu ada angka di kanan bawah yang selalu berubah tapi kenapa berubahnya cepatttt!! Aarrgghh….  angka menunjukan 59.20. Langsung mata saya dan Eva bertemu sambil berekspresi yang menggambarkan “omaiiigoott…. argonya argo kuda! Matii udah matiii”. Tapi si pak sopir ini baiikk, dia ngajak ngobrol dalam bahasa melayu, di obrolan itu kami jadi tidak enak kalau harus berhenti tiba-tiba, lagian di tengah jalan bingung lagi nyari taksinya. Eva pun berbisik ‘dinikmatin aja…” Tapi Tuhan, argo pun sudah berada di 120.00, mata saya selalu tertuju pada argo. Kata Eva pada saat masukin backpack ke bagasi, dia sudah ngasih kode. Hmmmm…. boleh ga kalo dalam keadaan genting ga usah pake kode, langsung aje tereak, ya manalah saya tahu itu kode, Cuma di towel-towel aja hahaha…. Si Pak Sopir yang akhirnya kami tahu namanya Pak Yamin, merupakan orang asli singapore dan muslim. Pada saat melewati sebuah jalan bertulisan Geylang, diapun bercerita sedikit mengenai daerah tsb, yaitu daerah hiburan malam. Pak Yamin ini baik, dia juga memberikan rute terdekat. Tapi lagi-lagi, saya tetap resah melihat argo yang sudah menunjukan 150. Saya berpikir, jika memang itu harganya SGD 150, berarti sudah overbudget, bahkan itu separuh dari budget kami berdua secara keseluruhan. Saya melihat ada alat gesek di taksi ini, jika memang harganya mencapai SGD 200, saya akan menggunakan kartu kredit. “Di Jakarta aja ga pernah naik Silver Bird, ini gaya-gayaan pake taksi mercy di Singapore” gumam saya dalam hati. Taksi pun sudah berada di Victoria street, dan gang bertuliskan “Jalan Kubor” terlihat, disisi kanan pun ada plang ABC Hostel. Alhamdulilah sampai, tapi di argo tulisannya 161.20. Pak Yamin pun menunggu kertas dari mesin dan berkata “saya kasih diskon jadi SGD25” , saya pun langsung kaget “hahh?? Yang bener pak?”  pak Yamin pun mengiyakan. Saya dikasih struknya, ternyata ohhh ternyata saudara-saudara, angka yang di argo itu bukanlah harganya, melainkan kecepatannya, sepertinya memang tidak ada harga di argo, seperti ada perhitungan lagi, saya pun tidak mengerti detailnya. Di Struknya, harganya SGD 25.80, tapi karena di diskon, kami hanya membayar SGD 25 fiiuuuhhh…. Berarti si Pak Yamin kalo kami resah melihat argo sepanjang jalan hahaha…. tapi leganya bukan maen! Berarti perhitungan budgetnya tidak melenceng jauh. Walaupun sebenarnya kami rugi, karena jika naik MRT tidak akan mahal, bahkan kami tahu dari Pak Yamin bahwa MRT tutup jam 12 malam. Tapi ya sudahlah, kalau tidak begitu, kami tidak pernah menikmati naik taksi mercy ddengan jantung yang sudah berceceran dimana-mana hahahahaa….

Akhirnya perbedaan armada antara ojek dan taksi mercy membawa kami sampai di ABC Hostel. Itulah yang saya suka dalam setiap perjalanan, selalu ada cerita menarik didalamnya😀.

15 Comments (+add yours?)

  1. harry_mdj
    Jul 23, 2012 @ 04:51:56

    lho kok cmn segini ceritanya? tp hahaha asli kalo gue yg di taxi mungkin sudah pingsan. btw tuh ojek dari BNI 46 ke Jelambar berapa duit?

    Reply

  2. abanggalau
    Jul 23, 2012 @ 04:55:56

    Ikut degdeggan baca ceritanya…
    Tapi juga ga berhenti ketawa waktu muncul kepanikannya… Hahahahahaa…
    Maaf, neng Fetty, hehehee…
    Tapi, emang cara berceritanya seruuu… Assiiikkk Eyyyy bacanya😀
    Kalo bisa, ga hanya tulisan waktu ngetrip aja dong… Hehehehee *ngelunjak*

    Reply

    • mebackpacking
      Jul 23, 2012 @ 06:20:30

      hahahahaa….. serruu bgt ampe deg-degan mampuss ituh leq😀
      untuk blog ini memang sengaja khusus trip ajah, makanya judulnya “MeBackpacking”.
      ditunggu juga ceritanya ya leq😀

      Reply

  3. achiedz
    Jul 23, 2012 @ 06:08:50

    Ceuceuu seru banget ceritanya!
    Emang masalah taksi di SG itu slalu bikin deg2an ya. Apalagi klo uda masuk waktu dmn ada extra charge. Jantung berdebar2 tak keruan, melebihi pas si dia mo ‘nembak’ #tsaahh

    Btw sering nginep di ABC ya? Ih akupunn.. trakhir kesana Juni 2011 sik.
    Ok si tptnya, ga aneh2.🙂

    Ditunggu cerita trip di SGnya ya, pengen liat HPEnyahhh..🙂

    Reply

  4. mebackpacking
    Jul 23, 2012 @ 06:51:38

    hahahahaa… iye ciidd, bener! lebih deg2an dari “ditembak.
    Akuw baru sekali di ABC hostel, sebelumnya hostel di Jl.Besar,
    secara keseluruhan sih oke, cuma isinya orang Indonesia semua
    hahahaa…
    ditunggu cerita selanjutnya ya ciiddd😀

    Reply

  5. kucingbloon
    Jul 23, 2012 @ 07:00:34

    Eh eh..Ojeknya mure amat…Mau donk contact-nya…Base-nya tp abang2 itu di BNI46 yaa?Mau ngga ya jemput kw Wismul? :))

    Reply

  6. arievrahman
    Jul 23, 2012 @ 07:07:12

    Hai Kak, seru ceritanya. Dulu aku pernah pakai taxi mercy di Singapore gara-gara si resepsionis hotel salah mesenin taksi … dan emang lebih mahal.

    Ceritanya ada di: http://backpackstory.wordpress.com/2012/03/17/liburan-kenapa-harus-mahal-part-one/
    😀

    Keep posting, Kak!

    Reply

  7. Hardi
    Jul 23, 2012 @ 08:49:05

    Duh…..Mpok gue nyang baca ajee ikut deg-degan mpok. Gak kebayang naek taksi kudu bayar sejutaan (dlm rupiah) lebih mahal ongkos taksinya dari pada ongkos pesawat🙂

    Reply

  8. Si Ochoy
    Jul 30, 2012 @ 05:09:52

    Huahahahha! Teteh! Lucuk ih tulisannya..hmmmini berarti catatan kecil gue buat ke Singapore (AMIN!) Mending naik taksi kali ya ,,,nyobain Taksi Mercy buat keliling2,,, #HorangKayah

    #1stComment

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: