Amazing Green Canyon

Selama ini saya sering mendengar dari teman-teman betapa indahnya green canyon, tapi kalau cuacanya sedang tidak bagus maka pemandangan di green canyon tidak akan seindah pada saat cuaca cerah. Dimulai dari celetukan teman-teman 2 minggu sebelumnya pada saat kami sedang makan-makan di Steak Holycow, “Green Canyon yuk! Cuacanya lagi bagus nih!”, dan celetukan pun di sambut hangat oleh yang lain. Dimulailah saya membuat itinerary dan browsing-browsing, Dita pun sibuk booking rumah sewaan dan Elf. Akhirnya terkumpullah 21 orang , kami berangkat Jum’at malam dari kantor.

Rencananya kami jalan jam 9 malam, tapi ternyata ada beberapa teman yang harus menyelesaikan pekerjaannya. 1 Elf dan 1 mobil pun jalan jam 11.30 malam, molornya agak banyak yaahh😀. Kami berhenti  3x di Cileunyi, Nagrek dan Parigi, dan baru sampai di Green Canyon jam 1 siang. Perjalanan ini sangat panjang dan melelahkan namun kami tetap semangat. Jalanan dari Cijulang menuju Green Canyon rusak parah sehingga memakan waktu agak lama. Sesampainya di Green Canyon, kami makan siang dulu sebelum masuk ke green canyon nya. Saya pun membeli tiket masuk seharga Rp.125.000/perahu, 1 perahu isinya 5-6 orang. Harga tsb hanya untuk perjalanan PP perahu dan foto-foto di bebatuan pertama saja, belum termasuk extra time jika mau berenang. Kalau mau berenang harganya Rp.100.000/30 menit. Sebaiknya anda hitung waktu mulai dan waktu selesai agar tidak ditipu. Saya mencoba nawar harga langsung dengan sopir perahunya, namun keempat perahu tidak mau ditawar. Sepertinya memang mereka sudah ada kesepakatan sendiri.

DSCN0639

Mulailah perahu jalan menuju ke dalam lokasi green canyon, sungai yang airnya berwarna hijau ini sungguh mempesona, ditambah dengan tebing-tebing di pinggiran sungai dan percikan air dari atas. Perahu berhenti di bebatuan yang menutupi jalur, kami pun berhenti dan diinfokan untuk mulai berenang melawan arus ke arah batu payung. Dari bebatuan besar ini, ada tali tambang menuju bebatuan berikutnya. Kami pun mulai renang mengikuti jalur tali, namun untuk selanjutnya tidak ada talinya. Kami harus berenang melawan arus, kami menggunakan pelampung karena memang arusnya lumayan deras. Saya sambil berenang sambil mengagumi keindahan Green Canyon, terutama jika renang gaya punggung, ‘Subhanallah’ jika kita melihat ke atas sungguh cantik! Terlihat pemandangan kanan kiri tebing tinggi dengan langit cerah dan pohon merambat dengan rintik-rintik air terjun , Amazing!

??????????

??????????

??????????Batu payung adalah batu yang menyerupai bentuk payung, disini biasanya orang-orang lompat ke bawah. Untuk menuju atas, kita harus memanjat tebing bebatuan. Saya pun tertarik untuk melompat, mulailah saya renang dari satu titik ke titik lain untuk menuju tebing bebatuan, dan memanjat tebing tsb sampai ke atas. Sesampainya di atas sempat kami foto-foto dulu :p. Saya adalah orang yang takut ketinggian namun nekad hehehe… jadi walaupun takut, tetap mencobanya, sama seperti waktu naik parasailing atau flying fox, awalnya takut namun kalau sudah coba sekali jadi ketagihan hahaha. Nah, lompat di batu payung pun demikian, begitu sudah sampai atas, menuju ujung batu saya deg-deg serr melihat ke bawah ditambah ada percikan air dari atas berasa hujan, menambah gejolak deh ahh. “udah fet, lompat, masa dah sampe sini ga lompat” ucap teman saya. Begitu ada orang yang mengantri, saya menyilahkan agar dia duluan yang lompat hihihihii mengulur waktu. Yak, saya pun maju dan melangkahkan satu kaki ke depan dan terjunlah saya ke bawah, padahal pada saat terjun masih kepikiran “hastagah, bisa ga neh gw balik lagi keatas” hahaha…. Tapi yah udah ga mungkin dong dan terdengar suara “byuuurrrr” horaaayyyy sampai juga di bawah😀, dan teman-teman yang dibawah semua tertawa melihat keraguan saya pada saat lompat hehe.

??????????

Selesai kami melompat di batu payung, kami pun kembali lagi. Namun renang kali ini mengikuti arus jadi lebih mudah. Sesampainya di bebatuan pertama tadi, ternyata kapal tidak parkir disitu. Perahu-perahu parkir di tempat parkir perahu yang lokasinya agak jauh dari bebatuan pertama, hal ini dikarenakan untuk menghindari antrian. Karena perahu masih di tempat parkir, maka saya dan beberapa teman memutuskan untuk berenang ke tempat parkir perahu yang lumayan jauh kalau renang, tapi seru karena mengikuti arus seperti body rafting saja. Oiya, harga paket body rafting di Green Canyon Rp.200.000/ orang. Namun kami tidak ikut body rafting karena ternyata dengan renang mengikuti arus dan  menggunakan life vest pun kami sudah seperti ikut body rafting dengan harga yang terjangkau tentunya *wink*. Cuma memang pasti  beda karena rute mereka lebih panjang, menggunakan helm dan alas kaki.

Saya dan Acong yang pertama renang ke tempat parkir perahu, kami bareng dengan rombongan tim body rafting. “ati-ati… kanan ada batu, awas! Kiri ada perahu”  teriak instruktur body rafting, hahaha saya dan acong berasa ikut body rafting, teman-teman lain masih jauh di belakang. Acong berenang bak anak pulau, tidak pakai pelampung pula, canggih! paling sekali-sekali pegangan ke saya jika dia capek. Pada saat jalur sudah mulai tidak berarus alias sungai sudah mulai melebar dan tenang,kami pun menunggu pemandu kami dan teman-teman lainnya. Muncullah pemandu dan 3 teman kami lainnya, lalu kami meneruskan renang kami di pandu sang guide hingga sampai ke daratan, lalu kami jalan sedikit ke tempat perahunya.

Tidak terasa sudah sore hari, namun kami semua puassss. Walaupun perjalanan cukup panjang dan melelahkan, semua terbayar dengan cuaca yang cerah sehingga warna hijau tosca sang Green Canyon sangat memukau kami. Saya harap kunjungan saya selanjutnya ke Green canyon jalanannya sudah bagus😀. See you again Green canyon!

afterfocus_1378893536974

The SEA is Calling

me in SEA

I Love Sea! I Love Beach! I Love Sands! I Love Fish!

Kemanapun saya pergi, selalu menyempatkan bertandang ke tempat favorit saya, yang berhubungan dengan laut. Salah satu tujuan saya ke Siangapura kali ini selain silaturahmi adalah SEA Aquarium, Aquarium terbesar di dunia. Singapura memang tidak ada pantai, kalaupun ada seadanya, namun SEA Aquarium adalah tempat berkumpulnya para ikan.

MRT melaju ke tujuan akhir dari Nort East line yaitu Harbour Front.  Mrt harbor front ini ada di Mall Vivo City, dari sini untuk menuju Sentosa Island ada 3 cara, bisa jalan kaki, naik sentosa express dan naik bus. Kali ini saya naik bus menuju Resort World Sentosa, karena SEA Aquarium ada di Resort World Sentosa. Setelah turun dari bus, saya langsung menuju ke tempat loker untuk menitipkan backpack saya. Harga sewa penitipan loker ini untuk ukuran large sebesar SGD 6/jam. Cara penggunaan Locker storage dengan mesin seperti ATM,  jadi hanya tinggal di tekan sesuai instruksi di mesin, dan akan diinfokan kita dapat loker nomor berapa dan otomatis si loker akan terbuka. nanti untuk membukanya pun kita harus menggunakan mesin dengan password yang sudah kita input pada saat awal sewa loker. Canggih deh pokoknya hehehe norak :p.

Tiket masuk SEA Aquarium untuk adult SGD 29, harga tiket bisa dilihat di sini . Saya senang lama berada di SEA Aquarium ini, selalu takjub melihat makhluk laut. Di SEA saya bisa menikmati keindahan bawah laut tanpa harus diving. Berikut saya share foto-foto dan video selama saya di SEA Aquarium.

??????????

karang warni

 ?????????? DSCN0382

AMAZING SEA

JELLYFISH

Silaturahmi ke Negeri Singa

Berkunjung ke negeri singa (Singapura) bukan kali pertama buat saya, ini adalah kunjungan keempat, namun trip kali ini lebih special daripada biasanya.  Saya anggap special karena saya bukan hanya jalan-jalan, tapi juga mengunjungi ‘Uni’ saya yang tinggal di Singapura, selain itu trip kali ini saya hanya sendiri (solo backpacking) dan hanya weekend.

Selesai shalat subuh, saya pamit pergi dengan backpack yang menemani saya. Damri dari Lebak bulus pun berangkat jam 6 pagi menuju SHIA. Sesampainya di SHIA, counter Tiger Airways belum buka untuk check in. Saya di antrian pertama untuk check in, lalu antri imigrasi  dan langsung menuju Primier Lounge untuk sarapan gratis hehehe. Seperti biasa, Tiger Airways selalu tepat waktu, penerbangan jam 9.40 dengan waktu  boarding jam 9.20. pada saat semua penumpang pesawat sudah berada di pesawat tiba-tiba ada info bahwa pesawat belum bisa jalan dikarena traffic penerbangan di SHIA dan pesawat kami antrian ke-18. Pfffttt…. Kami pun diam di pesawat hingga 20 menit. Untung saya ada teman mengobrol di pesawat, pasangan yang kebetulan dari mulai check in sudah bareng dengan saya.

Sesampainya di Changi International Airport sekitar jam 1 siang, saya pun langsung menuju MRT station. Trip kali ini saya sama sekali tidak membuat itinerary, tujuan pertama saya adalah Bugis Junction untuk makan siang. MRT adalah transportasi favorit saya, dengan membawa2 backpack tercinta saya makan siang di food court Bugis Junction.

“Uni, fety udah sampai singapur, ini lagi di bugis, abis ini mau keliling dulu ke Chinese garden” ucap saya ke uni melalui telepon.

“oh iya fet, udah pinter yah keliling singapur. Nanti berentinya di mrt marsailing yah. Woodlands ave 1” balas Uni.

Alamat uni sudah saya simpan sejak masih di Jakarta. Selesai makan siang, saya langsung meluncur dengan MRT menuju Chinese Garden. Jalur yang diambil adalah East West Line nanti turun di mrt Chinese garden, langsung terlihat taman luas membentang. Menuju Gerbang masuk, saya melihat ada kelompok orang India sedang bermain kriket. Seru juga sore hari main kriket di tanah lapang dengan cuaca yang agak mendung. Tetap dengan menggendong backpack dan kamera dikalungkan di leher, saya berjalan mendekati gerbang masuk Chinese Garden. Dan langsung terlihat pagoda tinggi khas cina seperti terlihat di foto.

DSCN0225

Masuk ke Chinese Garden ini tidak dikenakan biaya alias gratis😀, kecuali mau melihat pertunjukan kura-kura seharga SGD10. Pagoda tinggi ini adalah tujuan pertama saya di Chinese Garden karena memang lokasinya di depan gerbang masuk. Tantangan menjadi solo backpacking pun dimulai, saya yang terbiasa menjadi model di trip-trip sebelumnya, kali ini harus terbiasa menjadi fotografer, DAN jika saya ingin berfoto maka saya harus minta tolong ke orang. Hmmmm….. foto pagoda sudah saya ambil beberapa gambar, tidak jauh dari tempat saya ada Ibu-Ibu India berteriak ke anaknya yang sedang menaiki pagoda, dan dia pun tersenyum pada saya…. ‘yak, ini orang yang tepat untuk dimintakan tolong hahaha’.

“Hiiii…. Can you take me a picture please?” dengan senyum lebar memelas saya pun minta tolong. Dan dengan ramahnya si Ibu india langsung mengambil kamera dan saya pun langsung menaiki tangga. Pada saat saya siap berpose, si Ibu  dengan sungguh-sungguh mengambil gambar sambil terduduk-duduk hahaha… “KLIK!” satu jepretan berhasil dan dia berkata “once more”, ooohhh okeh, saya pun berpose lagi “KLIK!” jepretan kedua pun diambil. “great picture! Thank u very much” ucap saya ke Ibu tsb.

DSCN0230

Saya pun berjalan kembali menyusuri taman yang cukup luas ini dan bertemulah dengan ‘twin pagodas’. Pagoda kembar ini berada di pinggir sungai dan di sungai ini banyak anak-anak yang sedang berlatih kano, seru juga untuk di tonton. Di pinggir sungai pun ada tempat duduk, terlihat para keluarga sedang menyemangati anak-anak tsb.

Kembali saya berkeliling taman luas ini, taman ini asri dan bersih, saya sangat menikmati jalan mengelilinginya, sampai-sampai tidak terasa keringat sudah mengucur, manggul backpack cuuuyyy hahaha… dan tibalah saya di Japanese Garden. Ini adalah taman khas jepang, di taman ini ada patung symbol shio. Begitu melihat tempat duduk kosong, saya beristirahat disini. Taman di mana-mana sama aja, ada aja orang pacarannya… saya cuma sendiri woooiiii, andaikan bisa teriak begitu haahahaa. Lagi asyik-asyik duduk, ada abg singapura menghampiri dan mengajak ngobrol, sudah ngarol-ngidul mengobrol menanyakan sudah makan atau belum blab la bla…. Tiba-tiba dia bertanya “Are you twenties??” …. Aaaakkk akoh terbang hahahaha. “Nope, I’m thirties” lalu dengan mengernyitkan dahi dia berkata “really?? Are you sure?” Hohohohoo…. Ternyata si abg ini salah sasaran, maaf yah dek bukan maksut hati… tapi apa daya saya memang terkadang bisa menjadi lebih muda dari seharusnya #eeeaaa #narsis hihihihii.

??????????

?????????? ????????????????????

Setelah puas berkeliling di Chinese dan Japanese Garden, saya pun melanjutkan ke rumah Uni saya di daerah woodlands. Tanpa menghubungi kembali, saya berusaha mencari alamatnya sendiri dengan bermodalkan bertanya ke orang, dan saya pun menyusuri jalan akhirnya ditemukan blok bernomorkan 418, Yeaayy.. ketemu!! Saya pun menaiki lift menuju lantai 6. Sepanjang jalan saya bertanya-tanya, sekarang uni seperti apa yah? Sudah 20 tahun kami tidak bertemu, dulu uni saya ini selama SMA tinggal di rumah saya dan saat itu saya masih SD. Dia sudah tinggal di Singapura selama 15 tahun karena suaminya asli Singapura (Melayu) dan sekarang anaknya sudah 3. Walaupun ini bukan kali pertama ke Singapura, saya tidak pernah sempat mampir. “TING!” bunyi lift menandakan lift berhenti. Begitu keluar dari lift saya ambil jalan ke kanan dan rumah pertama nomornya 125. Saya tekan belnya 2x dan keluarlah seorang wanita yang sudah hamper saya tidak kenali “Fettyyyyyy…. Akhirnya sampai juga, kok ga nelpon uni?” kami pun berberpelukan melepas kangen. Didalam rumah kami pun meneruskan obrolan kami,  dan diperkenalkanlah anak-anaknya yang sudah besar-besar dan ada juga suaminya yang saya panggil ‘Abang’.  Pada saat mengobrol, uni menawarkan saya untuk jogging besok pagi berkeliling Woodlands dan langsung saya iyakan, hidup sehat bro!😀.

??????????

Selesai shalat subuh, saya, uni dan anak uni yang kedua sudah siap memakai sepatu jogging kami dan memulai pagi kami dengan menghirup udara pagi nan bersih sambil jogging. Woodlands ini adalah daerah pemukiman di Singapura. Banyak apartemen, condominium, dan bahkan ada rumah-rumah besar. Banyak warga yang berolahraga pagi di sepanjang jalan,  jalanannya bersih, teratur dan rapi, tidak seperti di Jakarta, ada rumput sedikit pasti bau tai kucing hehe. Di Singapura, banyak warga yang membawa anjingnya lari pagi, namun jika anjingnya buang air besar maka kotorannya harus dipungut oleh sang pemilik dan dibuang  di tempat sampah. Cukup panjang rute kami mengelilingi Woodlands, uni mengajak kami mampir ke Stadium seperti pusat olahraga untuk penduduk Woodlands. Stadium ini seperti stadion sepak bola yang dikelilingi jogging track. Jogging tracknya empuk, jadi sebenarnya lebih ringan jika jogging disini. Ada juga kolam renang dan lapangan tenisnya. Banyak juga yang senam pagi atau taichi disini.

DSCN0283

Selesai jogging, uni mengajak kami mampir ke pasar yang letaknya tidak jauh dari rumah. Pasar di Singapura seperti pasar modern di Jakarta. Menurut info dari uni, para pedagang harus punya ‘lisence’ untuk berjualan, tidak bisa sembarangan. Harga sewa dan ijin untuk toko di Singapura pun mahal sekali. Uni sempat menegur wanita berjilbab menanyakan bagaimana dagangannya kemarin. Ternyata wanita ini asal Indonesia ini suka berjualan di pasar namun tidak ada lisence dan hanya gelar lapak saja, dan baru kemarin ditangkap sehingga barang dagangannya diambil semua. Sedih memang namun demi menjaga ketertiban dan kerapihan, pemerintah keras dalam menangani hal ini.

Sebelum pulang ke rumah, kami pun sarapan pagi, dan saya pun memesan ‘Mee Rebus’, ini adalah sarapan pagi khas Singapura. Rasa Mi rebus ini enak! Mienya seperti mie aceh hanya lebih kecil dan rasanya pun tidak jauh bedah dengan mie aceh hanya bumbunya kental dan ada rasa ebinya (udang kecil), disuguhkan jeruk limo untuk peras di mienya. Porsinya lumayan nendang, yummy!

??????????

mee rebus

Walaupun hanya semalam saya mengunjungi uni saya, namun sudah cukup puas melepas rindu. Sebelum pamit, saya berfoto ria dengan keluarga uni. Saya pamit jam 11 siang karena berencana ke SEA Aquarium dan bertemu dengan teman saya Dina. See you again Uni, Thank you for your kindness🙂.

DSCN0295

Enak Juga Solo Traveling!

Me, Solo Traveling

Saya Selama ini kalau traveling tidak pernah sendiri, saya selalu sama teman-teman, minimal dua orang. Kalau naik pesawat atau naik bus ke luar kota sendiri pernah beberapa kali, namun di tempat tujuan pasti ada saudara atau teman.  Terbersit di otak untuk mencoba traveling sendiri, karena menurut beberapa teman traveler, solo traveling itu seru.

Tiger Airlines info ada promo, iseng-iseng cek penerbangan Jakarta – Singapura (one way) hanya Rp.150.000. Tanpa berpikir panjang, tangan lebih cepat gerakannya dari pada otak, ‘klik’ pembayaran sudah tereksekusi hehehe. Tiket pulang saya cek harga termurah dengan Lion Air SGD90. Yeeaayy…  jadi juga solo traveling!

Selain solo traveling, kali ini saya pergi ke Singapura hanya weekend. Sabtu subuh berangkat dari rumah ke lebak bulus diantar teman naik motor, dan meneruskan perjalanan menuju SHIA (Soekarno Hatta International Airport) dengan Damri. Dengan bermodal 1 backpack dan kamera  dikalungi dileher, saya pun siap menikmati ‘solo traveling – weekend getaway’.

Berikut saya share kiat-kiat ’solo-traveling’ versi Fetty *big smile* :

  1. Research dan membuat Itinerary, traveling sendiri maupun rame-rame saya selalu melakukan ini. Ini untuk mengetahui tujuan kita disana dan pembuatan itinerary juga untuk mengetahui budget yang akan digunakan selama traveling.
  2. Lightweight Luggage alias Bawaan Harus Ringkes.  Ini penting banget! Dan saya mengakalinya dengan menggunakan backpack tercinta seperti biasa, karena backpack lebih mudah dibawa kemana-mana. Dan tentunya barang bawaan pun jangan berat, jadi jika keliling bawa backpack tidak berat. Biasanya isi backpack saya hanya baju ganti secukupnya (dengan cara digulung), alat mandi, peralatan elektronik yang dipelukan seperti hp,kamera beserta chargernya dan dokumen perjalanan. Biasanya pada saat pergi hanya terisi setengah backpack jadi ringan bawanya dan untuk jaga-jaga siapa tahu pulangnya beli oleh-oleh hehehe
  3. SKSD, ini istilah jadul yang artinya Sok Kenal Sok Dekat. Jalan-jalan dengan teman-teman selalu bisa mengobrol dengan teman. Kalau jalan sendiri bagaimana? jangan sungkan untuk mengajak ngobrol teman baru/traveler lain. Tapi yah tentunya lihat-lihat dulu apakah orang tsb sedang sibuk atau tidak, lihat moment untuk mengobrol yang pas. Selama saya traveling, tidak pernah merasa kesepian karena selalu dapat teman mengobrol😀.
  4. Jangan Malu Bertanya, kalau istilah jaman dulu ‘malu bertanya sesat dijalan’ Bener! Dan ini bukan hanya untuk solo traveling sih, tapi pada saat kalian solo traveling, dan sudah buntu mencari  alamat tujuan kita maka satu-satunya cara dengan bertanya ke orang sekitar.  Bertanya tidak hanya dalam bahasa saja, kalau sudah berada di Negara yang bahasanya tidak kita mengerti, bahasa tubuh dan peralatan tulis sangat di perlukan. Saya pernah bertanya di Negara yang beda bahasa dan tidak bisa berbahasa inggris dengan cara menulis nama tempatnya di kertas. Ini lebih ampuh dari pada lisan yang kemungkinan besar cara baca mereka dengan kita berbeda.
  5. Safety first, kalau wanita pergi jalan-jalan sendiri sebaiknya hindari tempat-tempat yang tidak aman apalagi malam hari. Kalau pergi sama teman-teman apalagi sama pacar sih nggak apa, ada yang jagain.
  6. Jangan sungkan untuk minta tolong. Nah!! Ini berhubungan dengan pengambilan foto hahaha… Saya biasa jadi model jika traveling bersama teman-teman, tapi kali ini saya harus minta tolong orang yang lewat atau kebetulan ada di sekitar saya untuk mengambil foto saya hehe. Tapi tahu diri juga minta difotoinnya, jangan sampai berkali-kali juga sih😀.
  7. Keep Smiling dan mengikuti peraturan daerah tujuan. Yang namanya tamu di daerah orang, maka harus sopan,  jaga diri, ramah dan mentaati peraturan daerah setempat.
  8. Last But Not Least : Be Brave. Jangan pernah takut untuk traveling sendiri, sangat menyenangkan kok!

Pengalaman saya solo traveling kemarin sangat menyenangkan walaupun waktunya singkat. Dan saya benar-benar Enjoy!! Seperti quotes traveling yang sering kita dengar “It’s not about the Destination, But Its Journey”. Selalu banyak cerita didalamnya, Happy Traveling!

Rinduku Tersampaikan di Lombok

Gili Nanggu

Kapal meninggalkan Gili Trawangan menuju pelabuhan bangsal. Rinduku terhadap laut memang sudah tersampaikan di  3 Gili, namun rasanya masih belum cukup, untungnya masih ada hari esok di Gili Nanggu. Mas Julius sudah standby menunggu kami di pelabuhan bangsal, namun dia sms menginformasikan harus menunggu di terminal karena mobil tidak boleh masuk, kami harus naik cidomo dari pelabuhan menuju terminal. Jaraknya tidak terlalu jauh hanya sekitar 5 menit, dengan harga Rp.15.000 / 4 orang. Kendaraan pribadi hanya oleh sampai terminal, ini untuk mengenalkan cidomo kepada para wisatawan. Cidomo adalah delman yang rodanya ban mobil.

Awan gelap dan hujan pun mulai turun pada saat kami mulai meninggalkan Bangsal, Alhamdulilah. Musik pun mulai dinyalakan oleh Eva dan  lagu-lagu favorit era 90-an mulai berdendang, saya dan Novi pun mulai mengikuti lagu… yess, lagu-lagu rindu ditemani rintikan hujan dikaca mobil, rindu yang terbendung pun semakin mencuat keluar menjadi nyanyian hati, ahhaayyyy hehe…

Mas Julius menawarkan kami untuk mampir ke tempat oleh-oleh yang bernama Lestari di daerah Ampenan. Kami pun berbelanja sedikit oleh-oleh, ehhh saya deng yang dikit, yang lainnya mah banyak hehehe. Makanan khas lombok yang terkenal adalah dodol2an termasuk dodol rumput laut yang terkenal, rasanya enak. Lalu ada satu kue yang menurut mas-masnya itu kue khas lombok untuk acara-acara pernikahan, namanya lupa, kuenya garing terdiri dari tepung beras dengan gula aren pada topingnya, rasanya lucu😀. Oiya, saya berterima kasih pada mas Julius yang sudah mengirimkan dodol rumput laut  dus seminggu setalah saya di Jakarta😀.

Makan malam kami di Mataram adalah Sate Rembiga. Sate ini adalah sate daging yang sudah direndam sebelumnya oleh bumbu manis pedas, rasanya Enak! Perpaduan manis dan pedasnya pass, dimakannya dengan lontong, lontongnya dibungkus daun pisang berbentuk segitiga. Disebut sate rembiga karena memang berlokasi di jalan rembiga mataram. Katanya, orang lombok kalau ada acara sate daging inilah sebagai cemilannya. Untuk Eva yang sedang sariawan, sate ini terlalu pedas untuk dimakan, maka kami mampir membeli KFC untuk makan malam Eva.

Dimanakah kami tidur malam kedua di Lombok? Kami tidur di Lombok GuestHouse, lokasinya di Jl. Pariwisata no. 82 Mataram. Info mengenai Guesthouse ini saya dapat dari Donal, teman TravelTroopers. Harga kamar di Guesthouse ini mulai dari Rp.160.000 – Rp.200.000, Rumahnya besar. Saya pesan untuk kamar large dengan harga Rp.200.000 plus 2 extrabed, harga extrabed Rp.50.000/bed. Kamarnya besar dengan fasilitas AC, TV, dan kamar mandi dalam. Secara keseluruhan Lomok Guest House menurut saya nyaman. Tapi, ada yang mengganggu Novi yang sangat takut kecoa. Di kamar mandinya kami menemui beberapa kecoa, mungkin karena kaca di kamar mandi tidak tertutup rapat.

Jam 8.30 pagi kami sudah selesai sarapan dan siap menuju Gili Nanggu. Jarak dari mataram menuju Gili Nanggu sekitar 1,5 jam. Sesampainya di pelabuhan, kami memilih alat snorkeling, sewanya Rp.50.000/set. Dan disini pula kami beli roti untuk memberi makan ikan untuk snorkeling nanti. Untuk menuju Gili Nanggu dan  Gili lainnya, kami menyewa perahu dari pagi hingga sore Rp.250.000. Awalnya saya dimintai Rp.300.000, namun Mas Julius mengecek, jadi dikembalikan Rp.50.000 oleh di penjaga tiket. Beruntungnya kami ditemani mas Julius, sampai-sampai kami dibelikan pisang goreng hangat untuk cemilan di Gili Nanggu, baiknyaaaa…. Kami berempat pun menaiki perahu menuju Gili Nanggu sekitar 15 menit. Sebenarnya ada  gili lainnya, namun kami fokus ke Gili Nanggu.

??????????????????????????????? ???????????????????????????????

Gili Nanggu adalah pulau kecil yang cukup sepi, namun ada cottage di pinggir pantainya. Untuk bersantai disini enak, pasir putihnya lembut. Air laut di lombok saya perhatikan sama, pasir putih dengan gradasi warna air laut yang menawan. Sangat cocok melepas rindu di laut Lombok *wink*. Saya pun langsung nyemplung mengarungi pantai Gili Nanggu, di sisi depan cottage menurut saya sudah tidak agus, banyak sampah dan karangnya sudah mati, walaupun di sisi dekat palung ada karang yang baru ditanam. Namun di sisi dekat perahu parkir, karangnya masih cantik dan lebih banyak ikan-ikannya. Kalau sudah di laut saya suka lupa diri baru sadar pada saat mandi kalau badan sudah gosyong parah hahaha… gimana nggak, 2 hari berturut-turut melepas rindu terhadap laut😀. Tempat mandi di Gili Nanggu ada yang air tawar bayar Rp.5000/orang. Makan siang juga di restoran Gili Nanggu. Kembali ke pelabuhan jam 3.30 sore.

Sesampainya di pelabuhan, hujan pun turun lagi, setiap sore ditemani hujan di Lombok, padahal pada saat di Gili Nanggu sangat cerah dan terang. Perjalanan pun lanjut ke persinggahan kami terakhir yaitu Sunset House lombok di Senggigi. Kami pilih malam terakhir di Senggigi, agar paginya bisa bermain di pantai Senggigi😀. Sunset House Lombok ini hotel baru yang saya recommend. Harga untuk kamar standarnya Rp.400.000 namun jika transfer minimal 1 minggu sebelum hari H, dapat diskon  15% menjadi Rp.340.000. Sebelum menuju hotel, kami ke bukit malimbu, niatnya untuk melihat sunset namun sayang mendung, akhirnya kami foto-foto, bersantai sambil makan bakso hehe.

Bukit Malimbu edit

Matahari baru menongolkan wajahnya pada saat kami keluar kamar hotel menuju pantai senggigi, kebetulan hotel kami berada di pinggir pantai, yeayy!! Ditambah kolam renang hotel menghadap pantai yang membuat saya terpuaskan melampiaskan rindu akan laut. Pantai di Senggigi erwarna hitam, sama seperti di Amed/Tulamben Bali, hal ini karena dekat dengan gunung merapi. Selesai bermain di pantai, Saya dan Eva pun langsung nyebur untuk renang di kolam renang hotel. Selama di Lombok, saya tidak pernah luput dari air, BAHAGIA!!

???????????????????????????????

Main di pantai sudah, sarapan sudah, beberes sudah…. maka kami pun bersiap meninggalkan Lombok untuk kembali ke Jakarta. Mas Julius, sang guide yang baik hati ini pun sudah siap mengantar kami ke Lombok International Airport. Namun di tengah jalan, beliau menawarkan kami ke Desa Sade seelum ke Airport, karna masih cukup waktu.

desa sade

Desa Sade adalah sebuah desa warga sasak Lombok.Desa ini terdiri dari 105 keluarga yang masih sangat tradisional. Mulai dari rumahnya berbentuk lumbung, memasak masih menggunakan kayu, mengepel dengan tai kebo dan  melahirkan nya pun masih manual, tidak ke rumah sakit/bidan. Kerajinan khas warga sasak ini adalah kain tenun sasak. Di desa ini pun banyak di jual kain khas tenun bagi para pengunjungnya. Agama warga desa adalah islam. Para nenek terlihat masih segar menenun sambil mengunyah sirih. Wajib datang ke desa ini jika kalian ke Lombok untuk wisata budayanya😀.

rumah lumung nenek tenun

Airport sudah mulai terlihat di pelupuk mata, waktunya kembali ke Jakarta. Walau hanya dalam waktu singkat, Rinduku sudah tersampaikan di Lombok.

Bercengkrama di 3 Gili Lombok

DSCN0124

“Ebk  pety, pa kbr? Jd ke Lombok tgl 4 mart?”

Kaget membaca sms masuk, sambil membalas sms tsb

“ipuullll… kan bukan tgl 4 maret 2013, tapi tgl 4 april 2013. Jangan2 salah booking juga untuk lumbung cottage nya yah?”

Dengan cepat sms saya pun dibalas ipul ;

“o gtu ea dh cori tk kira in kira in bulan ni cori ea, nti tk kasi tau lumbungx”

‘Whattt?!! Pegimane deh cara baca sms iniihh’ , batin saya sambil mengernyitkan dahi berusaha keras membaca sms balasan dari ipul, guide kami di Gili Trawangan, dan tentunya sambil tertawa terbahak-bahak.

Belum-belum saya datang ke Lombok, saya sudah semangat untuk berada di Gili Trawangan, ditambah lagi membayangkan si Ipul, guide alay kami dengan sms-smsnya yang selalu membuat saya tertawa hahahaha…. Saya dapat kontak Ipul dari Helen, teman saya yang sudah ke Lombok di bulan Februari 2013.

Perjalanan saya ke Lombok awalnya di picu oleh promo tiket Batavia air pada tahun 2012, Jakarta – Lombok PP seharga Rp.278.000 untuk tgl 4-7 April 2013. tapi keberuntungan ternyata tidak berpihak pada kami, 4 bulan menuju hari H, Batavia Air dinyatakan pailit. Saya, Eva dan Nurma panik pada saat itu, tapi karena tekad kami bulat untuk ke Lombok ditambah Novie yang sudah terlanjur beli tiket Lion Air dengan tanggal penerbangan yang sama, maka kami pun membeli lagi tiket Lion Air yang akhirnya satu penerbangan dengan Novie.

Sesampainya di SHIA jam 7 pagi, terlalu pagi memang untuk penerbangan jam 9, untuk menghindari ketinggalan pesawat. Untungnya penerbangan ‘on schedule’, sehingga sesampainya di Lombok International Airport pun tepat waktu. Sambil celingak-celinguk saya mencari mas Julius, guide/sopir kami, namun tidak ada yang membawa tulisan bernama ’FETY’, bb saya mati sehingga tidak bisa menelpon dan akhirnya menggunakan telpon teman lain untuk menghubungi, Yollaaaa… akhirnya kami pun bertemu dengan mas Julius. Karena sampai Lombok jam 12, maka sudah waktunya kami makan siang. Kami pun makan di Rumah Makan Cahaya, rumah makan di depan Airport yang direkomendasikan Pak bondan. Makanan di rumah makan ini enak, dengan makanan khasnya Nasi Balap puyung. Rasanya memang beneran ‘maknyuussss’ sambalnya yang yahud alias pedas memang menambah nafsu makan dan harganya pun sangat terjangkau, nasi balap puyung komplit harganya Rp.15.000 per porsi.

Nasi Balap Puyung

“Ebk pety krg dh di mna ni?”

Ipul sms menanyakan keberadaan kami dan langsung dengan sigap saya membalas bahwa kami sedang perjalanan menuju bangsal.

Matahari siang itu sangat cerah menyambut kami, dan kami pun tidak sabar untuk bertemu laut. Perjalanan dari Airport Lombok menuju pelabuhan bangsal sekitar 1,5 – 2 jam. Menuju pelabuhan bangsal kami melewati Kota Mataram, Senggigi, Bukit Malimbu dan Puncak Nipah. Namun karena mengejar kapal angkutan maka kami tidak mampir. Penampakan pelabuhan bangsal tidak seperti pelabuhan besar seperti muara angke, dia hanya ada satu bangunan untuk pembelian tiket yang berada di pingggir pantai dengan kapal-kapal kecil berjejer. Kapal untuk public transport ini beroperasi hanya sampai jam 5 sore, untuk ke 3 gili. P.Bangsal ke Gili Air dengan harga Rp.8.000, ke Gili Meno Rp.9.000, ke Gili Trawangan Rp.10.000. Isi kapal ini juga angkutan untuk para pedagang/hotel, sehingga penuh dengan kardus-kardus dagangan.

bangsal Di dalam kapal

“Dh nyampek mna ebk? Pa nma butx? Tk tggu di pelabuhan nih”

Di kapal pun dilancarkan sms-sms dari Ipul hahahaa…. Yang bikin saya pusing bacanya.

Kami melewati Gili Air, Gili Meno, dan sampailan di Gili Trawangan disambut dengan airnya yang berwana biru… ahhh kangennya dengan laut membuat saya nyengir-nyengir sendiri.

Pada saat turun dari kapal, dari kejauhan saya sudah melihat laki-laki berkaos oblong putih dengan kacamata hitam dengan frame putih berbadan hitam kejemur (hihihi.. maap yah pul), namun karena diajak ngobrol dengan penumpang kapal lain, saya tidak langsung bertegur sapa, hingga akhirnya Ipul sang guide ‘alay’ kami menyapa Eva yang bacpacknya warna oranye sama dengan backpack saya, yang sudah saya infokan ke Ipul sebelumnya. Saat saya sedang meladeni obrolan kenalan baru, dicolek Eva “ini loh EBK PETY nyah….”  Dengan pembacaan sesuai tulisan sms hahahaha…

“Ipuuuullll… my man!! Pa kabarr??” ,sambil salaman ala  teman lama yang baru bertemu kembali haha. Kami pun langsung di geret ke lumbung Cottage tempat menginap kami semalam. Letak Lumbung Cottage berada di” tengah kota’ nya gili trawangan (kata ipul), maksudnya dekat kemana-mana, dekat ke pasar seni maupun ke pantai, tapi memang tidak di pinggiran, agak masuk ke dalam. Berikut penampakannya.

Lumbung Cottage

Selesai menaruh barang, Ipul mengajak kami berkeliling Gili Trawangan dengan bersepeda. Sambil bersepeda kami pun mengambil foto-foto. Awalnya senang bersepeda namun lama kelamaan capek juga, keringatan wooiii hahaha, olahraga bener kayanya. Selain sepeda, ada juga Cidomo, yang dalam bahasa Indonesia disebut delman. Harga sewa untuk sepeda Rp.40.000-50.000 / 24 Jam, sedangkan Cidomo harganya Rp.150.000/3 orang dan tidak bisa bebas berhenti. Jadi, lebih enak sewa sepeda sebenarnya😀. Sekilas  Gili Trawangan seperti Phi Phi Island – Thailand. Pulau yang pinggiran pantainya berisi restaurant & bar , dan 80% isinya turis asing alias bule, namun tidak seramai Phiphi island. Sembari bersepeda mengelilingi Gili Trawangan, kami berfoto-foto di pinggir pantai, sayang awannya mendung jadi tidak dapat melihat sunset.

sepeda ???????????????????????????????

Haii

kwartetSelesai bersepeda warna langit pun sudah berubah menjadi gelap, waktunya makan malam hehehee… lelah bersepeda langsung makan!. Makan malam kami di pasar seni, ada yang menjual seafood bernama Ibu Aminah, letaknya pas di pintu masuk pasar seni. Mereka menjual ikan laut, udang, cumi, dan lain-lain. Dijualnya dalam bentuk sate, satu tusuk sate harganya mulai dari Rp.5.000 – Rp.25.000 dan otomatis dapat nasi dan pilih 3 jenis sayur. Seperti ini kurang lebih penampakannya.

???????????????????????????????

Pagi hari di Gili Trawangan, saya mulai  dengan berkeliling dengan sepeda dan bersantai di pantai.  Selesai sarapan, saya dan Nurma bersiap untuk snorkeling di 3 gili (Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air). Harga island hopping per orang sebesar Rp.100.000, termasuk alat snorkeling kecuali fin. Jika mau tambah fin, bayar lagi Rp.15.000. Saya sendiri bawa fin sendiri. Yeaayyy… akhirnya saya main air!

Me n Laot

Kapal pun melaju meninggalkan bibir pantai, dan menuju ke spot pertama. Spot pertama berada di antara Gili Trawangan dan gili Meno. Nurma sudah siap dengan life vestnya, kami pun nyebur. Awalnya snorkel Nurma bermasalah, selalu masuk air, mungkin karena panik, namun lama-lama saya giring Nurma ke tempat yang lebih cetek dan kami pun mulai melihat karang-karang dan ikan-ikan berseliweran. Sekitar 30 menit kami renang. Sedang asyik-asyik berenang, tiba-tiba saya sadar bahwa kapal kami berada sangat jauh. Kamipun renang lagi menuju kapal. Awalnya saya bilang ke nurma untuk tidak menggerakkan kakinya, biar saya saja bergerak, tapi kok lama-lama berat yaahh… akhirnya saya menyuruh nurma menggerakkan kaki, namun ternyata tidak pengaruh, akhirnya saya menyuruh dia untuk tidak menggerakkan kaki lagi.  Mungkin beratnya dikarenakan dia menggunakan life vest. Sampai di kapal, Nurma pun langsung berucap “fet, nanti spot kedua, gw ga ikut turun yah.. elo ajah”, hahahaa… rupanya Nurma kelelahan. Dan memang kebetulan spot kedua di Gili Meno, sang guide menginformasikan kami harus berenang 500 meter, karna akan hunting penyu, dan penyu itu tersebar di spot yang berjarak 500 meter.

“Yaaakk.. We have to swim 500 meters to see the turtles” ucap guidenya. Saya pun hanya turun sendiri, Nurma dan 5 orang Jakarta lain (kenalan di kapal) tidak ikut turun, sepertinya mereka lelah dan tidak berani melepas life vest nya. Akhirnya saya dan para turis asing mulai turun dan mulai berenang. Baru turun kami sudah menemukan penyu di kedalaman 8 meter. Laut di Gili ini berbentuk palung hampir sama dengan laut Bali, jadi saya berenang di atas kedalaman yang berbeda antara sebelah kanan dengan kiri. Di sebelah kanan kedalaman 7-8 meter sedangkan sebelah kiri puluhan meter. Warna air dan suhu udara pun berbeda.  Selama perjalanan 500 meter, kami bertemu 6 penyu. Penyu ini makhluk pemalu, mereka akan pergi jika banyak manusia yang datang. Yang membuat saya takjub, melihat penyu yang berenang dari daerah air yang berwarna biru muda ke arah yang airnya berwarna biru tua, Indah! Sayang saya tidak bisa mengabadikan, kamera underwaternya rusak hikkss…

Spot snorkeling ketiga di Gili Air, guidenya info disini disebut Coral Reef Garden. Karang-karang disini indah dibanding 2 gili sebelumnya. Di 3 Gili banyak sekali ikan-ikan yang berenang secara bergerombol, mereka seperti berbaris antri beras, rapiiiihhhh…. Kalau bahasa kelautannya namanya “SCHOOLING FISH”, Cantik!. Pemandangan underwater selalu membuat saya lupa diri, tidak peduli badan berubah menjadi hitam gosyong yang penting senang hehehe…

Di Gili Air kami istirahat makan siang, ada restoran yang menjual makan siang mulai dari menu Indonesia sampai dengan menu Internasional. Tersedia juga toilet umum, sehingga bisa bilas di sini. Saya sih memang sudah niat, jadi sudah bawa perlengkapan mandi. Selain saya dan Nurma, ada 5 orang Jakarta lainnya. 4 orang dari Mangga Dua. Dan satu orang, dia travelling sendiri, kami pun mengobrol bareng sambil makan siang.

Tidak terasa norkeling dari jam 9 pagi hingga jam 3 sore pun berakhir. Saya dan Nurma kembali ke Lumbung Cottage, sedangkan Eva dan Novie masih berada di Restoran. Oiya, Eva dan Novie tidak ikut snorkeling, mereka bersantai di pulau dari pagi mengahabiskan waktu untuk massage dan berleha-leha di restoran. Setelah kami bertemu di hotel, kami pun bersiap untuk check out. Walaupun hanya sebentar di Gili Trawangan, saya puas sudah bisa bercengkrama di 3 Gili😀. Diantar Ipul, kami pun menaiki kapal menuju ke pelabuhan bangsal sore hari. See U again 3 Gili, see u again Ipul!!😀

Gili Trawangan

Berkeliling di negeri gajah putih nan eksotik – Part 4

Menikmati Sunset di Patong Beach

by : Nyoman Sudarsana

Pagi terakhir ditandai dengan hujan rintik, apakah phiphi bersedih karena kami akan pergi meninggalkannya? Hehehe geer deh…. Bersyukur selama di phiphi island, cuacanya sangat cerah. Sebelum meninggalkan phiphi, kami sarapan di resto kemarin pagi. Setelah masuk ferry untuk bertolak ke Phuket, kami pun bersyukur karena hujan tidak datang kemarin pada saat kami island hopping bahkan cuaca sangat cerah. Perjalanan dari Phiphi island menuju Phuket kurang lebih sekitar 1,5 jam, sama halnya dari krabi menuju phiphi island. Di dalam ferry, ada mas-mas yang menawarkan jasa antar dari pelabuhan di phuket menuju masing-masing tujuan. Setelah berunding, akhirnya kami pun memutuskan untuk menggunakan minibus dengan harga 50 bath per orang, termasuk murah karena diantar sampai hostel. Hostel kami di phuket adalah Phuket Backpacker Hostel, hotelnya bersih dan harganya terjangkau!.

Walaupun hari pertama kami di Thailand berada di patong, namun kami belum puas main di pantai Patong. Lokasi mangkalnya bus ke patong tidak jauh dari hostel, hanya jalan beberapa meter, tepatnya di depan seven eleven. Depan seven eleven ada beberapa bus dengan tujuan berbeda, Phuket-Patong, Phuket-Karon, dll. Bus di Phuket tidak seperti bus-bus biasanya, busnya merupakan modifikasi dari truk besar, dikasih tempat duduk panjang di pinggirnya dan di tengah pun diberikan tempat duduk namun hanya setengah bus, ada jendela dan ada kipas angin juga di atasnya. Kelemahan bus yang merupakan truk besar ini adalah, tempat naiknya yang tinggi, jadi agak susah bagi orang tua untuk menaikinya. Seperti inilah penampilan busnya.

Bus di Phuket

Sesampainya di Patong, kami turun di Jeungceylon Mall.  Jauh-jauh ke Thailand tetep mampirnya ke mall hehehe. Di mall ini kami makan di foodcourtnya, kali ini saya memesan nasi + kari daging, yang ternyata si Ibu penjual merupakan keturunan Malaysia, bisa bahasa melayu sedikit. Porsi makanan di foodcout ini memang banyak-banyak dan enak, kenyang😀. Di Mall ini kami juga sempat beli oleh-oleh dikit, ada toko di lantai dasar yang menjual toko oleh-oleh khas Thailand.

Keluar dari mall, kami jalan menuju pantai patong ditemani rintik hujan. Sempat berteduh di pinggir toko, tapi hanya sebentar, kami lanjut lagi jalan menuju pantai patong untuk menikmati sunset. Yak! Sampailah kami di pantai patong yang terkenal itu.Sore hari di pantai ini sudah banyak bermain, mulai dari anak kecil, pasangan turis, orang bermain parasailing hingga penduduk lokal yang sedang mengumpulkan binatang laut seperti keong yang terlempar ke pasir dari ombak yang datang. Kamipun sibuk dengan kegiatan masing-masing, Yuren dan Triss yang mengikuti kegiatan para penduduk lokal, Nyoman sibuk mengambil foto, dan saya hanya berjalan menyusuri pantai sambil melihat keindahan Sang Pencipta. Dalam hati saya bersyukur kepada Allah, kemarin saya melihat sunset di phiphi island dan hari ini saya sedang menikmati indahnya sunset dari pantai patong, Alhamdulillah. Cukup lama kami di pantai ini, dan banyak sekali foto-foto yang dihasilkan oleh sang fotografer, Nyoman. Love it!! Thanks to him.

by : Nyoman sudarsana

Matahari sudah mulai tidak terlihat pada saat kami meninggalkan pantai untuk berjalan ke Bangla Road. Bangla road adalah sebuah jalan terkenal di patong untuk hiburan malam. Lokasinya seperti jalan di Legian-Kuta Bali. Jalan ini ditutup memang khusus untuk pejalan kaki. Kami terus berjalan menyusuri jalan di patong sambil tentunya jajan makanan kecil. Pada saat kami jalan melewati tempat pijat, ada beberapa pemijat yang biasanya berjejer di depan tokonya. Saya dan Triss didepan, ternyata Yuren dan Nyoman di belakang terhambat. Kenapa terhambat? Ternyata oh ternyata….. Yuren mau diculik pemijat ‘lady boy’ hahahaa. Awalnya si lady boy memegang Yuren untuk menawarkan jasa pijatan, lalu yuren menolak tidak mau. Namun si lady boy tidak menyerah sampai disitu, dikejarlah si Yuren lalu ditarik dan dipeluk, sampai-sampai Yuren pucet hahahaha…. Sang lady boy gemes dengan Yuren yang mungil sepertinya hihihii. Pembahasan lady boy ini selalu menjadi lelucon buat kami sepanjang jalan😀.

Karena sudah malam, bus yang membawa kami ke patong sudah tidak ada, karena mereka hanya sampai jam 6 sore. Akhirnya kami pun menggunakan taksi untuk kembali ke hostel. Sebelum tidur, kami makan malam di pasar dekat hostel. Di resto ini kami terhibur dengan waitress nya, sangat ramah dan lucu. Dia kami ajari Bahasa Indonesia beberapa kata namun dengan gayanya yang lucu membuat kami tertawa dan senang😀. Malam terakhir di Thailand dihibur dengan si waitress ini, dengan nadanya yang lucu dia bilang “SAMPAI JUMPA KEMBALI”. Amiiiinnnnn…. Ucap saya dalam hati. Trip 7 hari di Thailand ke beberapa tempat menyimpan banyak kenangan indah dan lucu.

by : Nyoman Sudarsana

Previous Older Entries