Berkeliling di negeri gajah putih nan eksotik – Part 2

DSC_0111

Bangkok – The Place of Wats

Yeaayy!! Akhirnya menginjakkan kaki di Suvarnabhumi Airport. Suvarnabhumi dibacanya Suvarnabhum tanpa i. Bandara ini merupakan bandara besar, sampai-sampai awalnya kami sempat tersasar hehehe. Bandara ini sudah tersedia Airport link yang bernama Suvarnabhumi Airport Link (SARL), dan kebetulan hotel yang sudah kami pesan langsung terhubung dengan SARL di Ramkhamhaeng station. Harga untuk SARL dari Suvarnabhumi Airport menuju Ramkhamhaeng Statiun senilai 30bath. Nasa Vegas Hotel, tempat kami tidur selama di bangkok lokasinya persis didepan stasiun ramkhamhaeng, hanya tinggal menyebrang saja. Hotel ini adalah hotel besar dengan bangunan yang tinggi namun terlihat sudah cukup tua. Kenapa kami pilih hotel ini? Pada saat ada promo di Airasiago, hotel dengan harga Rp.135.000/malam dengan fasilitas AC, double bed, kamar mandi dalam dengan peralatan mandi dikemas hotel dan ada bath tubnya dengan hot/cold water, dan disediakan kulkas didalam kamar.

Tidak jauh dari hotel, ada pasar yg bernama kontan. Disinilah kami berbelanja makanan selama 2hari. Di pasar ini kami membeli sushi 1 kotak (isinya 8 sushi) dengan harga 35 bath, jika membeli 3 dikasih harga 100 bath. Ada makanan yang menarik perhatian saya, namanya Yam Bin San, seharga 32,5 bath. Rasa dari Yam bin san ini ada rasa asam pedes seperti tom yam di kuahnya, isinya soun, sawi, potongan ikan, udang, cumi, jamur dll. 1 porsi Yam Bin San bisa untuk 2 orang. Rasa asem dan pedas ini sangat segar di mulut walaupun kuahnya tidak sebanyak tom yam, namun meresap ke seluruh isinya, enak!. Sudah ada di Bangkok, jangan sampi tidak mencoba Durian. Harga duriannya 60bath untuk 1 setereofoam yang isinya sekitar 7-8 biji, dipuas-puasin makan durian asli bangkok dengan bijinya yang kecil, yummiii :D. Ada juga ayam panggang, ayamnya dipanggang tanpa bumbu, namun dimakannya dicocol dengan bumbu asem manis. Menurut saya kalau ayam panggang, Indonesia juaranya hehe. Oiya, di pasar banyak sekali saya lihat orang menjual nasi, hanya nasi loohh… 1 plastik nasi seharga 7-10 bath. Kalau nasi + telor cepok/dadar seharga 20 bath. Jika dilihat dari begitu banyak penjual makanan, sepertinya banyak orang thailand yang beli makanan diluar.

Pagi hari di Bangkok kami mulai dengan tujuan Grand palace.  Dari hotel ke Grand palace diputuskan dengan menggunakan bus, agar kami bisa mencoba semua moda transportasi. Tris sudah mencatat bus mana yang bisa mengantarkan kami ke grand palace, dan bus itu bernomor 60. Setelah lumayan lama menunggu bus, akhir nya bus dengan nomor 60 pun datang, karena bus cukup penuh maka kami berdiri. Saya memberikan Nyoman uang senilai 20 bath untuk berdua. Lalu si pak kenek, yang sudah lumayan tua, meminta uang. Kenek bus di sana memegang alumunium berbentuk silinder yang didalamnya tempat koin dan uang serta karcis tanda bukti pembayaran. Pada saat pak kenek meminta uang, saya bertanya dengan menggunakan bahasa inggris, namun dia tidak bisa berbahasa inggris. Akhirnya saya pun menginformasikan lokasi dekat grand palace tempat kami akan berhenti, dan dia mengangguk-angguk tanda mengerti tapi kok mukanya pak kenek meragukan yah? Ya sudahlah… lihat nanti saja. Pada saat Nyoman memberikan 20 bath yang dikembalikan pak kenek hanya 7 bath dan itu pun hanya untuk dia sendiri, karcis nya menunjukkan 13 bath. Saya harus mengeluarkan duit lagi dan saya dikasih karcis seharga 12 bath. Yuren dan Triss karcis seharga 12 bath namun harga yang mereka bayar hanya 11 bath (jika dihitung dari kembalian pak kenek). Kami pun bingung, kok beda-beda yah? Apa harga karcis ditentukan dari berat badan bukan dari jarak?? Hahaha… semua melirik ke Nyoman yang berbadan paling besar dan Yuren yang paling kecil. Sedang asyik-asyik menikmati duduk, yang sebelumnya berdiri, tiba-tiba si pak kenek teriak ke kami dalam bahasa Thai (trang ceng cong cang) yang diartikan dalam bahasa tubuh, “heii… lo dah pada sampe nih.. turuh gih”. Kami melirik satu sama lain sambil berkata dalam hati “mana grand palacenya? Kok ga ada tanda-tandanya”. Walaupun sudah diteriaki, saya masih tetap duduk seakan tidak percaya ini sudah sampai. Tapi lagi-lagi si pak kenek meneriaki kami seperti mengusir kami. Baiklah, akhirnya kami turun dari bus 60.

Begitu turun, di bus stop saya pun kembali bertanya dengan orang yang masih muda, saya pikir pasti dia bisa bahasa inggris. Tapi ternyata…. dugaan saya salah, dia pun tidak mengerti bahasa inggris bahkan tidak tahu Grand Palace. Saya jadi berpikir, apakah ada nama Thailand untuk grand palace?? Akhirnya kami pun menulis di kertas “GRAND PALACE” dan “WAT PHO”. Kami pun berjalan menyusuri trotoar. Tidak lama ada Tuktuk, saya pun dengan lincahnya menanyakan si sopir untuk mengantar kami ke grand palace, dan lagi-lagi… dia tidak mengerti  dan meninggalkan kami begitu saja, sedihnya. Bunyi suara motor tahun 70an pun mendekati kami, si Bapak berseragam polisi sepertinya tahu kalau kami tersesat. Akhirnya saya tunjukan kertas bertuliskan “GRAND PALACE” dan dia mengerti, horeee!! Dia pun bisa sedikit bahasa inggris, tidak lama dia memberhentikan Tuktuk dan bicara dengan sopirnya kemana tujuan kami. Dan si sopirnya pun bisa sedikit bahasa inggris, akhirnya setelah tawar menawar, dia mau mengantar kami ke Grand Palace dengan harga 50 bath. Begitu sampai di Grand palace, ada bus 60 dari arah berlawanan yang melewati kami, sedihnya kami dicampakkan oleh pak kenek :D. Hikmah diturunkan ditengah jalan oleh bus 60 adalah kami bisa naik tuktuk di bangkok J. Sambil melihat Grand palace dari luar, kami berteriak “ini baru sudah sampai Grand Palace” hehehe….

DSC_0104

Baru di pintu masuknya saja, sudah penuh dengan turis dari berbagai negara. Baik yang ikut rombongan maupun turis mandiri seperti kami. Dan terdengarlah suara rombongan dari Indonesia dengan menggunakan bahasa jawa, saya pun terseyum bertegur sapa dengan para rombongan. Harga masuk Grand palace 400bath/orang, sudah termasuk tiket masuk ke The Royal Thai decorations & Coin Pavillion, Vinmanmek Mansion Museum serta Arts of the Kingdom Exhibition at Ananta Samakhom throne Hall.

Grand Palace dibuka jam 8.30 – 16.00, sedangkan Vimanmek dibuka jam 9.30 – 16.00. Namun lokasi Vimanmek agak jauh dari Grand palace, dan trip kali ini kami tidak sempat mengunjungi Vimanmek.  Masuk ke kompleks Grand Palace ada beberapa hal yang harus  diperhatikan, baju harus sopan, tidak boleh menggunakan celana pendek/rok pendek, dan baju pun dilarang menggunakan baju tangan buntung. Jika tidak memenuhi syarat, ada penyewaan kain sebelum pintu masuk. Kompleks Grand Palace ini sangat ramai pengunjuk, ditambah kami datang pada hari minggu. Begitu masuk Grand Palace, saya kagum dengan kemegahan kompleks ini dengan detail yang dibuat untuk setiap pernak-perniknya. Ada satu sisi tembok yang merupakan lukisan cerita pewayangan ramayana. Cerita tersebut adalah cerita hindu, dan jika dilihat lukisannya hampir sama dengan lukisan pewayangan hindu Jawa-Bali. Walaupun kerajaan Thailand saat ini penganut Budha, masih kental terasa pengaruh Hindunya.Taman di Grand Palace ini menurut cerita, mendatangkan tukang kebun dari Indonesia. Sungguh saya terpesona dengan kompleks Grand Palace, dan berharap kerajaan-kerajaan dan candi-candi di indonesia pun terawat dan terekspose seperti ini.

CSC_0291

Selesai mengelilingi Grand Palace,  kami pun ke pasar di diluar Grand palace untuk makan siang. Makan siang kami adalah nasi kuning, nasi putih, ayam, gulai daging, oseng buncis. Tidak lupa dessert nya, sticky rice with mango seharga 20 bath dan sticky rice with durian seharga 30 bath. Sticky rice with mango yang kami beli sungguh enak, dengan kuah santan yang kental dan mangga yang manis sungguh perpaduan yang maknyus di mulut. Sedangkan sticky rice with durian rasanya sama seperti kinca di Indonesia.

DSC_0221DSC_0220DSC_0218

Dengan perut yang sudah diisi, kami pun menyusuri jalan menuju Wat Pho, di sepanjang jalan ada pasar kaget yang menjual macam-macam barang. Saya sempat membeli gelang dengan hiasan gajah dengan harga hanya 20 bath, lumayan :D. Pada saat kami jalan, ada orang yang berusaha menipu, dia bilang “Wat Pho is closed”, namun karena kami sudah tahu scam semacam ini dengan cuek kami tetap berjalan. Jadi, kalau di Thailand jangan cepat percaya yaahh… salah-salah nanti di tipu. Sebelum sampai di Wat Pho, sebelah kanan jalan ada taman  di pinggir sungai Chao Praya, disini banyak sekali orang istirahat . Tapi hati-hati, ada banyak yang menjual jagung memaksa dengan dalih kasih makan burung. Kami hanya melewatinya saja, tidak sempat duduk-duduk.

DSC_0239

Wat Pho adalah The temple of the Reclining Budha. Disinilah tempat patung emas Budha yang sedang tidur berada. Harga masuk Wat Pho sebesar 100 bath, dan dapat 1 botol minuman per orang gratis. Dibuka jam 8.00 – 16.00. Sama seperti di Grand Palace, ada tempat orang bersembahyang. Bahkan karena di setiap sudut ada patung Budha, ada beberapa orang yang singgah untuk berdoa. Jika ingin memasuki ruangan Reclining Budha harus melepas alas kaki, dan diberikan kantong untuk menenteng alas kakinya masing-masing. Jika bajunya tidak memenuhi syarat seperti masuk ke Grand Palace, akan di pinjamkan kain gratis. Patung Reclining Budha ini sungguh cantik, semua orang pasti mengambil gambarnya, bagitupun saya dan triss :D.

Setelah berkeliling Wat pho, kami pun lanjut ke Wat Arun. Untuk menuju Wat Arun, harus naik boat untuk menyebrang sungai Chao Praya. Harga karcis untuk naik boat sebesar 3 bath/orang. Wat Arun diartikan Candi fajar, dengan nama panjang Wat Arunratchawararam Ratchaworamahavihara. Harga masuk ke Wat Arun untuk turis asing sebesar 50 bath. Namun kami masuk tanpa diminta biaya, padahal kami melewati penjaganya. Dan orang-orang dibelakang kami diminta karcis. Hahaha… lumayan, mungkin karena kami seperti orang lokal :D.  Wat Arun cukup tinggi dan bisa di naiki hingga ke atas, 3 teman saya menaiki tangga hingga ke atas dan saya hanya sampai tengah, lalu balik menunggu dibawah karena takut ketinggian :D. Mereka bilang pada saat naik, tidak terasa tingginya, tapi begitu turun baru terasa kepala pening melihat kebawah karena tangganya pun kecil hehehe.

Chatuchak Market

Dari pagi hingga sore kami habiskan untuk mengunjungi Grand Palace, Wat Pho dan Wat Arun. Melelahkan memang mengelilingi 3 tempat tersebut seharian, namun terbayar semua dengan keindahannya. Tujuan selanjutnya adalah Chatuchak Market. Chatuchak Market hanya buka pada saat weekend, dan pasar ini menjual berbagai barang dengan harga cukup murah. Kebetulan hari minggu, maka kami pergi ke Jatujak dengan menggunakan bus AC. Kali ini kenek busnya perempuan dan bisa berbahasa inggris, yeayy!! Begitu kami tanya apakah ini bus tujuan Jatujak Market, dia langsung bilang ‘yes’. Ternyata ada beberapa turis yang menaiki bus ini dan tujuannya pun sama, Chatuchak Market.

Sesampainya di Chatuchak  agak gerimis, namun tidak menyurutkan niat kami untuk mengelilingi Jatujak. Kami memakai jas hujan sekali pakai yang sudah kami beli di Jakarta, dan ternyata bisa dipakai berkali-kali hehehe. Di pasar ini semua dijual, mulai dari baju, sepatu, kerajinan tangan, makanan, perabotan rumah tangga hingga hewan. Semua tersedia dengan harga yang cukup murah. Kami diberikan peta, namun peta itu tidak kami baca. Kami berjalan menyusuri tiap sudut jalan, dan mengelilingi Chatuchak dengan sukses. Sebenarnya kami ke Chatuchak bukan untuk berbelanja, hanya ingin tahu seperti apa pasar yang terkenal ini, sekalian mencoba jajanan disini. Barang yang kami beli hanya 2 jenis, yaitu magnet bertulisan Thailand seharga 100bath untuk 3 magnet dan hiasan lonceng untuk bel rumah titipan teman Nyoman seharga 200 bath.

Sambil menyusuri Chatuchak, kami selalu mampir membeli jajanan. Otak-otak  goreng (sama seperti di Indonesia) sebagai makanan pembuka, lalu di susul dengan eskrim kacang hijau dengan ditaburi kacang. Lalu ada kios bertulisan Roti-Mataba dengan penjual ibu-ibu, karena penasaran saya pun tertarik membelinya, ada berbagai pilihan rasa yaitu mataba isi telor, mataba garing, mataba isi pisang, dan mataba isi pisang+telor. Mataba ini persis kulitnya seperti martabak telor di Indonesia, namanya pun hampir mirip. Saya memesan mataba isi pisang+telor, dan beginilah penampakannya (gambar no.). Harga mataba ini hanya 30 bath. Lalu kami juga membeli sus mini, 1 plastik isinya sekitar 20 biji. Sus nya kecil-kecil dengan isian fla didalamnya. Dan jajanan penutup terakhir kami di Chatuchak adalah Som Tam. Som Tam adalah rujak khas Thailand. Bumbu khas dari rujak mangga muda ini adalah kepiting. Pertama si ibu penjual menumbuk kepiting di ulekan seperti rujak bebeg di Jakarta, lalu disusul dengan cabe dan ebi (udang kecil), lalu dikasihnya cairan rasa asam khas thailand. Setelah itu barulah dimasukkan mangga muda berwarna putih  yang diserut ditambah kacang panjang. Begitu rujak ini masuk di mulut, rasanya sungguh rame hahaha… rasa amis dari kepiting dan ebi ditambah rasa asem dan pedes (cabe). Triss tidak terlalu suka rasa amis dan asamnya, kalau saya karena memang pemakan segala, jadi tidak terlalu masalah :D.

DSC_0276DSC_0277DSC_0283

Terbenamnya matahari ditambah dengan hujan yang mengguyur, akhirnya kami pun memutuskan untuk kembali ke hotel dengan menggunakan BTS dari Mo Cit station. Kami naik BTS sampai ke Phaya Thai, dari Phaya Thai ganti naik SARL menuju Ramkhamhaeng station. Sampailah di Nasa Vegas Hotel. Setelah bersih-bersih, kami pun langsung keluar hotel untuk membeli makan malam di pasar Kontan tempat biasa kami beli. Lengkaplah perjalanan kami 1 hari di Bangkok. Esok pagi kami harus ‘terbang’ lagi ke Krabi.

Hari kedua yang merupakan hari terakhir kami di Bangkok, ditutup dengan sarapan di pasar Kontan. Ada 2 gerobak berhadap-hadapan, yang satu ibu-ibu berjilbab dengan gerobaknya yang bertuliskan “Tea Pot”. Dan dihadapannya gerobak yang menjual bubur. Di Tea pot ini saya membeli roti bakar dengan ditaburi gula dan kue bantal kecil, dan tentunya minuman khas thailand, Thailand tea. Hot milk tea nya ini sangat enak diminum di pagi hari dengan cuaca pasca hujan,  dengan cemilan roti dan kue bantal. Triss membeli bubur yang masih ngebul dengan telor mentah diatasnya, dan langsung matang begitu diaduk dengan bubur yang masih panas. Sarapan pagi yang nikmat dengan harga yang sangat terjangkau.

DSC_0296

Kami check-out dari Nasa Vegas Hotel jam 8.30. Pesawat kami ‘terbang’ jam 10.15 (ontime) menuju Krabi dengan waktu tempuh satu setengah jam di udara. Pemandangan pada saat mau mendarat sangat cantik, namun landasan airport Krabi pendek, kalau saya perhatikan pesawat kami cukup lama berputar-putar di udara sebelum berhasil ‘landing’. Sampailah kami di Krabi untuk melanjutkan perjalanan menuju Phiphi island.

6 Comments (+add yours?)

  1. dheni yeti
    Jan 30, 2013 @ 07:32:17

    kalau dari ramkahaeng airport link ke stadion rajamangala jauh ga?

    Reply

  2. omnduut
    Mar 01, 2013 @ 09:03:26

    Wah sampe disuruh berhenti di tengah jalan oleh si kenek. :) Pengalamannya seru!

    Reply

  3. yana
    Jan 06, 2014 @ 09:27:02

    kalau dari hotel nasa vegas ke pasar kontan naik apa ya??kalau jalan kaki arahnya ke mana ya?? thx

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: